"TEMANI AKU BUNDA"
Pada hari pertama Ujian Nasional 2011 di SDN VI Petang Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Muhammad Abrary Pulungan (biasa dipanggil Abrar) disuruh berbuat curang oleh gurunya. Ia tak kuasa menahan tangis dan kecewa karena (dua hari sebelum UN) telah menandatangani perjanjian di atas kertas yang dibuat oleh gurunya yang berisi kesepakatan untuk bersedia memberikan jawaban UN kepada teman-temannya dan berjanji untuk tidak memberitahukan peristiwa tersebut kepada siapa pun, termasuk orang tua. Saat mengikuti proses ujian, Abrar semakin gelisah ketika teman-temannya bebas bertukar jawaban, padahal ada pengawas di sana.
Saat dijemput ibunya, Abrar menceritakan peristiwa tersebut sambil menangis. Tentu saja ibunya geram dan kesal mendengarnya. Keesokan harinya di hari kedua UN, Bu Winda mendatangi sekolah anaknya. Ia membawa kamera kemudian merekam (secara sembunyi) semua aktivitas selama ujian. Bahkan, ia juga merekam hasil pembicaraan dengan kepala sekolah dan seorang guru yang telah membuat kesepakatan tersebut.
Bu Winda menyampaikan keberatannya pada pihak sekolah tersebut, ia meminta guru dan kepala sekolah terkait meminta maaf di depan publik agar kasus kecurangan UN tidak terjadi lagi. Namun pihak sekolah mengabaikannya. Justru kejujurannya itu malah membuat sang anak diasingkan oleh para guru dan teman-temannya di sekolah. Abrar dikucilkan, diejek oleh teman sekolah maupun teman main di rumah. Abrar dan keluarganya dianggap hanya mencari ketenaran.
Saat dijemput ibunya, Abrar menceritakan peristiwa tersebut sambil menangis. Tentu saja ibunya geram dan kesal mendengarnya. Keesokan harinya di hari kedua UN, Bu Winda mendatangi sekolah anaknya. Ia membawa kamera kemudian merekam (secara sembunyi) semua aktivitas selama ujian. Bahkan, ia juga merekam hasil pembicaraan dengan kepala sekolah dan seorang guru yang telah membuat kesepakatan tersebut.
Bu Winda menyampaikan keberatannya pada pihak sekolah tersebut, ia meminta guru dan kepala sekolah terkait meminta maaf di depan publik agar kasus kecurangan UN tidak terjadi lagi. Namun pihak sekolah mengabaikannya. Justru kejujurannya itu malah membuat sang anak diasingkan oleh para guru dan teman-temannya di sekolah. Abrar dikucilkan, diejek oleh teman sekolah maupun teman main di rumah. Abrar dan keluarganya dianggap hanya mencari ketenaran.
Tak puas dengan sikap yang diterimanya, Bu Winda pun mencoba menempuh jalur hukum untuk kasus ini, ia mendatangi satu persatu instansi pemerintahan. Tim investigasi dibentuk oleh pemerintah untuk mengungkap dan mengetahui kebenaran dari kasus ini, tapi sampai sekarang belum ada hasilnya.
Nilai yang dianggap segala-galanya di dunia pendidikan kita, sering kali membimbing para murid untuk mengejar nilai ketimbang ilmu yang sejati. Lebih baik jadi orang gagal yang jujur daripada orang sukses tapi pembohong.
Pesan buat kita para guru sebaiknya jangan memberi contekan kepada peserta didik. Biarlah mereka yang berusaha dan berjuang agar mereka tau sebatas mana kemampuan mereka. Sebaik-baik guru adalah yang mendidik dengan baik.
Film ini disutradarai oleh Tedika Puri Amanda, Irma Winda Lubis dan Komunitas Roda, diproduksi oleh Yayasan Kampung Halaman.
Oleh VIKA SEPUTRI (A1C118086)


Komentar
Posting Komentar